Menu Tutup

Pada Kamis, 02 September 2021 telah berlangsung kegiatan rilis prakiraan musim hujan tahun 2021/2022 wilayah Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Stasiun Klimatologi Malang secara daring melalui ruang Zoom dan kanal Youtube Info BMKG Juanda. Kegiatan berlangsung mulai dari pukul 09.15 WIB sampai dengan 10.36 WIB. Acara tersebut dihadiri oleh Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA., Taufiq Hermawan, S.T., M.T., Anung Suprayitno, S.Si., gubernur Jawa Timur, para bupati seluruh Jawa Timur, dan beberapa stakeholder yang memiliki kerjasama dengan BMKG di wilayah Jawa Timur.

Kegiatan rilis prakiraan musim hujan merupakan agenda BMKG periode satu tahun sekali sebagai bentuk penyebaran informasi mengenai waktu datangnya musim hujan di wilayah Indonesia. Namun, pada acara tersebut tidak hanya membahas mengenai waktu datangnya musim hujan, tetapi juga evaluasi musim kemarau dan rekomendasi hal yang perlu dilakukan dalam menghadapi perubahan musim kemarau ke musim hujan.

Hasil monitoring musim kemarau di wilayah Jawa Timur, Anung Suprayitno, S.Si., menyebutkan bahwa musim kemarau telah berlangsung sejak bulan April 2021. Namun, terdapat beberapa wilayah yang masih diguyur hujan, yaitu daerah Malang bagian tenggara dan Lumajang bagian barat daya. Berdasarkan hasil analisis, penyebab terjadinya hujan di musim kemarau ialah gangguan atmosfer yang berdampak terhadap jumlah uap air di wilayah Jawa Timur.

Kemudian monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori kekeringan ekstrem di wilayah Jawa Timur perdasarian menunjukkan hanya sebagian wilayah yang terdampak, seperti Madiun, Nganjuk, Surabaya, Probolinggo, Bangakalan, Pamekasan, dan Sumenep. Hari tanpa hujan adalah hari tidak terjadinya hujan atau memiliki curah hujan kurang dari 1 milimeter secara berturut-turut. Terdapat tujuh kriteria HTH yaitu sangat pendek (1-5 hari), pendek (6-10) hari, menengah, panjang (11-20 hari), sangat panjang (31-60 hari), dan kekeringan ekstrem (lebih dari 61 hari). Monitoring HTH dilakukan pada setiap akhir periode DJF, MAM, JJA, dan SON. Fenomena yang terjadi di sebagian wilayah Jawa Timur ialah HTH dengan kriteria kekeringan ekstrem yaitu tidak terjadi hujan selama kurang lebih 60 hari atau 2 bulan. Hal tersebut yang mendasari Stasiun Klimatologi Malang belum merilis adanya fenomena kekeringan meteorologis dikarenakan masih terjadi hujan di wilayah Jawa Timur.

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Anung Suprayitno, S.Si., Kepala Stasiun Klimatologi Malang dapat disimpulkan bahwa musim kemarau di Jawa Timur berlangsung sejak bulan April 2021, dengan sebagian wilayah masih mengalami hujan dikarenakan adanya gangguan cuaca sehingga berpengaruh terhadap jumlah uap air. Hal yang mendasari yaitu SPL hangat, munculnya MJO, dan Eq Rossby. ENSO dan IOD diprakirakan dalam kondisi netral dan berpeluang terjadinya La Nina pada akhir tahun 2021. Awal musim hujan tahun 2021/2022 wilayah Jawa Timur diprakirakan pada bulan Oktober dan November. Hasil perbandingan dengan normalnya, awal musim hujan maju atau lebih awal. Sebagai catatan untuk menghadapi musim hujan, yaitu, tidak perlu melakukan modifikasi cuaca dikarenakan belum terpantau kekeringan meteorologis kriteria ekstrem skala luas, perlu diwaspadai juga cuaca ekstrem khususnya hujan lebat pada masa peralihan hingga musim hujan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis  (Salsa dan Okvi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *