Menu Tutup

Beberapa fenomena yang mendasari dan berpengaruh terhadap prakiraan musim di wilayah Jawa Timur yaitu, ENSO, Dipole Mode (IOD), dan Monsun. ENSO (El Nino Southern Oscillation) adalah fenomena interaksi antara atmosfer dan lautan yang ditandai dengan anomali suhu permukaan laut di wilayah Ekuator Pasifik Tengah. Apabila suhu permukaan laut (SPL) lebih panas dari rata-ratanya maka disebut El Nino, sedangkan jika suhu permukaan laut lebih dingin daripada suhu normalnya maka disebut La Nina. Fenomena El Nino akan membawa dampak berupa penurunan curah hujan, sedangkan La Nina akan meningkatkan curah hujan. BMKG memprakirakan bahwa fenomena ENSO Netral akan berlangsung hingga Desember-Januari-Februari 2022.

IOD (Indian Ocean Dipole) atau Dipole Mode adalah fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia karena adanya perbedaan nilai antara anomali SPL perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah Barat Sumatera. Dipole Mode memiliki dua kategori yaitu, positif dan negatif. Dipole Mode positif menyebabkan pengurangan curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan Dipole Mode negatif berdampak terhadap peningkatan curah hujan. Monitoring IOD menunjukkan kondisi netral hingga tahun 2022. BMKG memprakirakan bahwa kondisi IOD akan berada pada kondisi netral dan akan berlangsung setidaknya hingga Januari 2022.

Selain IOD dan ENSO, fenomena yang berperan terhadap cuaca di wilayah Indonesia khususnya di Jawa adalah sirkulasi Monsun Asia-Australia. Sirkulasi ini terjadi karena perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara yang terjadi mengikuti pergerakan matahari, sehingga dalam satu tahun terjadi dua kali yaitu monsun Asia (baratan) dan monsun Australia (timuran). Monsun Asia berkaitan dengan musim hujan di Indonesia karena adanya tekanan tinggi di Asia sehingga udara bergerak menuju Australia melewati Samudera Pasifik dan membawa udara basah. Sedangkan monsun Australia berkaitan dengan musim kemarau karena udara bergerak dari Australia melewati gurun menuju wilayah Asia yang membawa udara kering. Hasil monitoring monsun, diprakirakan bulan November angin monsun Asia memasuki wilayah Jawa Timur yang mengindikasikan akan terjadinya hujan.

 

 

Dari hasil analisis prakiraan fenomena tersebut, BMKG menunjukkan hasil prakiraan awal musim hujan 2021/2022 di wilayah Jawa Timur, sebagian besar terjadi pada bulan November. Untuk wilayah Tuban dan Lamongan, diprakirakan awal hujan lebih maju dari normalnya yaitu pada bulan November dasarian pertama (1-10 November) dengan sifat hujan kategori Normal atau jika nilai curah hujan antara 85% – 115% terhadap rata-ratanya dan diprediksi puncak hujan akan terjadi pada bulan Januari tahun 2022. Wilayah Tuban dan Lamongan diprakirakan memiliki toal jumlah curah hujan sekitar 1001 – 1500 mm.

Sedangkan untuk wilayah Bojonegoro, diprakirakan awal musim lebih maju sekitar 1 dasarian dari normalnya yaitu terjadi pada bulan Oktober dasarian ketiga (21-30 Oktober) dengan sifat musim hujan kategori normal. Wilayah Bojonegoro diprakirakan memiliki sifat  hujan lebih basah daripada wilayah Lamongan dan Tuban dengan jumlah curah hujan sekitar 1501 – 2000 mm.

Rekomendasi untuk menghadapi musim hujan yaitu, waspada terhadap cuaca ekstrem berupa hujan deras, angin kencang dan petir yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banijr dan puting beliung. Selain itu, pada periode musim hujan juga dapat dimanfaatkan untuk menambah luas tanam dan melakukan panen air hujan untuk mengisi waduk/danau/embung yang berguna untuk periode musim kemarau yang akan datang, serta melakukan peningkatan kerjasama antar daerah untuk pengurangan resiko bencana iklim lintas batas kabupaten dan provinsi. (Salsa dan Okvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *